Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 024/I



KAJIAN UTAMA: Tanda-tanda Kiamat (Asyrath as-Sa'ah)

Asyrath (أشراط) adalah bentuk Jamak dari kata Syarth (شرط) yang artinya tanda, prasyarat, atau kondisi. Jadi Asyrath as-Sa’ah artinya tanda-tanda kiamat, yakni kondisi dan situasi yang mengiringi makin dekatnya Hari Kiamat. Allah Ta’ala berfirman dalam al-Quran:

فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ السَّاعَةَ أَن تَأْتِيَهُم بَغْتَةً فَقَدْ جَآءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَآءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ
Maka apakah yang mereka tunggu selain Hari Kiamat yang akan mendatangi mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apalah gunanya penyesalan mereka apabila Hari Kiamat sudah datang? [QS Muhammad 47:18]

al-Quran dan al-Hadits banyak menyebutkan tanda-tanda Kiamat, baik secara tersurat maupun tersirat. Hal ini sangat penting mengingat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai Nabi dan Rasul terakhir (tidak ada lagi Nabi dan Rasul sesudah beliau) di akhir zaman (ketika kiamat sudah sangat dekat). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ
"Aku diutus dan Hari Kiamat seperti kedua (jari) ini". Seraya beliau mengisyaratkan dengan jari tengah dan jari telunjuk untuk menunjukkan dekatnya. [HR. al-Bukhary dan Muslim]

Kiamat adalah sebuah kejadian besar, bahkan kejadian yang maha besar. Kejadian yang menandai kehancuran alam semesta dan peralihan dari alam dunia ke alam akhirat. Mengingat pentingnya Kiamat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan segala hal yang perlu diketahui oleh ummatnya untuk menyongsong hari kiamat.

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ وَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتْ الظُّهْرُ فَنَزَلَ فَصَلَّى ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتْ الْعَصْرُ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى غَرَبَتْ الشَّمْسُ فَأَخْبَرَنَا بِمَا كَانَ وَبِمَا هُوَ كَائِنٌ فَأَعْلَمُنَا أَحْفَظُنَا
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat fajar bersama kami, beliau naik mimbar lalu berkhutbah hingga waktu zhuhur tiba maka beliau turun. Lalu naik mimbar kemudian berkhutbah hingga tiba waktu ashar maka beliau turun lalu shalat. Setelah itu beliau naik mimbar kemudian berkhutbah hingga matahari terbenam. Beliau memberitahukan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Yang paling tahu diantara kami adalah yang paling kuat hafalannya." [HR. Muslim]

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَامًا مَا تَرَكَ شَيْئًا يَكُونُ فِي مَقَامِهِ ذَلِكَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ إِلَّا حَدَّثَ بِهِ حَفِظَهُ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ قَدْ عَلِمَهُ أَصْحَابِي هَؤُلَاءِ وَإِنَّهُ لَيَكُونُ مِنْهُ الشَّيْءُ قَدْ نَسِيتُهُ فَأَرَاهُ فَأَذْكُرُهُ كَمَا يَذْكُرُ الرَّجُلُ وَجْهَ الرَّجُلِ إِذَا غَابَ عَنْهُ ثُمَّ إِذَا رَآهُ عَرَفَهُ
Dari Hudzaifah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di hadapan kami, tidak ada sesuatu pun yang terjadi sejak berdirinya beliau itu hingga hari kiamat melainkan ia kabarkan. Telah dihafal oleh orang yang hafal dan telah dilupa oleh orang yang lupa. Para sahabatku ini telah mengetahuinya. Dan sungguh ada sesuatu yang terlupakan olehku lalu aku melihatnya (terjadi) maka aku pun mengingatnya sebagaimana seseorang yang mengingat wajah orang lain yang lama tidak ia lihat, kemudian ketika ia melihatnya, ia pun mengenalnya. [HR. Muslim]
Para ulama membagi tanda-tanda Kiamat dalam dua atau tiga kategori:

Pertama: tanda-tanda kecil (shughra) yang telah terjadi. Diantaranya ada yang sudah usai seperti Bi’tsah (diutusnya Nabi Muhammad), Era Khilafah, fitnah di masa Sahabat, meluasnya kekuasaan Islam, wabah tha’un, munculnya api, dan sebagainya. Ada pula yang telah terjadi dan masih terus berlangsung yang sebagian Ulama menamakannya tanda-tanda sedang (wustha). Seperti banyak terjadi gempa bumi, meratanya kebodohan (dalam ilmu agama), merebaknya kemaksiatan dan kekufuran, waktu menjadi pendek, banyak pasar, banyak gedung-gedung tinggi, kaum kuffar menguasai kaum muslimin, banyak pembunuhan, banyaknya jumlah wanita, dan sebagainya.

Kedua: tanda-tanda besar (kubra) yaitu segala kejadian yang belum muncul hingga sekarang dan akan muncul atau terjadi ketika Hari Kiamat sudah amat sangat dekat. Ada sepuluh tanda-tanda kiamat kubra sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi. Bila salah satu tanda-tanda kubra ini sudah muncul, maka tanda-tanda berikutnya akan menyusul dengan cepat hingga Kiamat terjadi.

InsyaAllah satu persatu akan dirinci dan diuraikan dalam edisi-edisi bulletin al-Qalam selanjutnya.

AHKAM
Pembagian Air

Air terbagi dua:
(1) Air yang suci. yaitu air yang masih berada dalam kondisi aslinya, seperti air hujan, air laut, air sungai, air yang terpancar dari tanah dengan sendirinya atau dengan alat, baik rasanya tawar maupun asin, panas ataupun dingin. Inilah air suci yang digunakan untuk bersuci.
(2) Air najis. Yaitu air yang berubah warna, rasa atau baunya disebabkan oleh najis, baik jumlah airnya sedikit maupun banyak. Hukumnya tidak boleh digunakan untuk bersuci.
Air najis menjadi suci bila perubahan yang disebutkan di atas hilang dengan sendirinya, atau dengan dikurangi, atau dengan ditambahkan air dari luar hingga perubahan tersebut hilang.
Bila seseorang ragu-ragu dengan keadaan suatu air apakah najis atau suci maka kembalikan kepada hukum asalnya yaitu: suci.
Bila seseorang tidak dapat membedakan suatu air apakah suci atau tidak, maka gunakanlah air itu untuk bersuci jika dugaannya kuat bahwa air tersebut suci.

Sumber: Ringkasan Fiqh Islam oleh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri

HIKAM
Tuntutlah Negeri Akhirat

Inilah diantara petuah al-Hasan al-Bashry rahimahullah:

“Semoga Allah merahmati seseorang yang bekerja dengan baik, dengan tujuan untuk bisa berinfak (membelanjakan harta di jalan Allah), memilih hidup miskin daripada mendapat kemewahan. Duhai sungguh sangat sayang, dunia telah pergi dengan segala angan-angannya, (sekarang) yang tersisa hanyalah amal sholeh yang terkalung di pundak-pundak kalian. Kalian sibuk dengan jual-beli bersama manusia, sedangkan waktu telah membelimu. Sungguh kalian telah kalah sigap untuk bisa menjatuhkan pilihan, maka apa lagi yang kalian tunggu? Seolah-olah kalian sudah mendapat jaminan. Sesungguhnya tidak ada lagi Kitab petunjuk dari Tuhan setelah Kitab kalian ini (al-Qur'an), dan tidak pula ada nabi setelah Nabi kalian. Duhai anak Adam, juallah duniamu dengan akhiratmu maka engkau akan mendapat keuntungan pada keduanya, dan jangan sekali-kali kamu jual akhiratmu dengan duniamu karena engkau akan merugi selama-lamanya.”

Sumber: Mutiara Salaf

No comments:

Post a Comment