Bulletin Dakwah al-Qalam Edisi Khusus Persiapan Ramadhan



BEKAL RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah bulan perjuangan. Bila ingin meraih kemenangan di bulan Ramadhan, kita harus mengadakan persiapan dan bekal sebelum memasukinya.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang tidak serius dalam mempersiapkan diri untuk menuju ke medan perang:

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
“Dan jika mereka memang serius mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." [QS at-Taubah 9:45]

Berikut ini beberapa bekal ilmu yang harus kita ketahui untuk diamalkan selama bulan Ramadhan. Semoga Allah memberi kita taufiq untuk mengamalkannya.

Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 025/I



PERIODISASI UMMAT

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membagi masa atau periodisasi ummatnya menurut pemerintahannya. Karena corak peradaban ummat manusia sangat ditentukan oleh pemimpin mereka. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ.
“Akan berlangsung Nubuwwah (Kenabian) di tengah-tengah kalian selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia hendak mengangkatnya.  Kemudian berlangsung Khilafah berdasar sistim Nubuwwah selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia hendak mengangkatnya. Lalu berlangsung “kerajaan yang menggigit” selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia hendak mengangkatnya. Lalu berlangsung “kerajaan yang menindas” selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia hendak mengangkatnya. Kemudian akan berlangsung (kembali) Khilafah berdasar sistim Nubuwwah. Lalu beliau diam”. [HR. Ahmad]

1) Zaman Nubuwwah (Kenabian)

Yaitu zaman ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Para Nabi dan Rasul memang diutus oleh Allah untuk memandu dan memimpin ummat manusia menurut petunjuk agama-Nya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ
"Adalah Bani Isra'il selalu diurus oleh Nabi-nabi. Bila seorang Nabi meninggal, diganti dengan Nabi lainnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggalku. Tapi akan ada para khalifah yang banyak". Para shahabat bertanya: "Apa yang anda perintahkan kepada kami?". Beliau menjawab: "Penuhilah bai'at khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat) lalu yang pertama. Berikanlah hak mereka (untuk ditaati) karena Allah akan meminta pertanggung jawaban mereka tentang pemerintahan mereka". [Hadits Muttafaq ‘Alaih]

2) Zaman Khilafah Rasyidah atau Khulafa’ ar-Rasyidin al-Mahdiyyin.

الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكًا بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ وَخِلَافَةَ عُمَرَ وَخِلَافَةَ عُثْمَانَ وَأَمْسِكْ خِلَافَةَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلَاثِينَ سَنَةً
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Khilafah dalam ummatku tiga puluh tahun kemudian setelah itu kerajaan.” Kemudian Safinah berkata kepadaku: Peganglah khilafah Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan Ali radliyallahu 'anhum. Kemudian kami menghitungnya ternyata tepat tiga puluh tahun. [HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi]

Pada dasarnya, setiap pemerintahan Islam yang dipimpin oleh satu pemimpin untuk seluruh kaum muslimin sedunia, disebut Khilafah. Namun yang mendapat gelar Khulafa’ ar-Rasyidin adalah empat Khalifah awal yaitu Abubakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Sedang Khilafah setelahnya, menggunakan sistim suksesi kepemimpinan menurut garis keturunan seperti kerajaan. Namun secara umum, kaum muslimin masih dianggap bersatu di bawah satu al-Jamaah atau al-Khilafah.

فَقَالَ الْعِرْبَاضُ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Dari al-Irbadh berkata, "Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama kami, kemudian menghadap ke arah kami lalu memberikan sebuah nasihat yang sangat menyentuh yang membuat mata menangis dan hati bergetar. Lalu seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat untuk perpisahan! Lalu apa yang engkau washiatkan kepada kami?" Beliau bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, senantiasa taat dan mendengar meskipun yang memerintah adalah seorang budak Habsyi yang hitam. Sesungguhnya orang-orang yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku, dan Sunnah para Khalifah al-Mahdiyyin (yang mendapat petunjuk) ar-Rasyidin (yang lurus), berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), sebab setiap perkara yang baru adalah bid'ah dan setaip bid'ah adalah sesat.” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad]

3) Zaman Mulkan ‘Adhdhan atau Kerajaan yang Menggigit.

Era setelah Khulafa’ ar-Rasyidin, dinamakan masa Mulkan ‘Adhdhan atau kerajaan yang menggigit. Dalam masa ini, suksesi Khalifah secara turun-temurun seperti sistem kerajaan, namun secara umum masih bisa dianggap Khilafah karena memerintah kaum muslimin seluruh dunia. Kenapa dinamakan Mulkan ‘Adhdhan (kerajaan yang menggigit?). Ada dua penafsiran. Pertama, karena mereka masih memegang atau menggigit Sunnah Nabi dan Sunnah Khilafah Rasyidah dalam menjaga sistem kepemimpinan kaum muslimin seluruh dunia atau Imamah-Jama’ah atau Khilafah yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Kedua, karena banyak penguasa di masa ini, melakukan tekanan kepada para Ulama yang mengkritik penyimpangan para penguasa dalam hal agama maupun dunia. Wallahu a’lam.

4) Zaman Mulkan Jabriyyah atau Kerajaan yang Sewenang-wenang.

Zaman ini ditandai dengan runtuhnya sistem Khilafah pada tahun 1924 di Turki. Sejak saat itu ummat kehilangan al-Jama’ah yang memimpin kaum muslimin berdasarkan Islam. Ummat Islam tercerai-berai dalam negara-negara yang dikuasai oleh pemerintahan kufur atau sekuler. Mereka memaksa kaum muslimin (dengan kekuatan ekonomi dan militer mereka) untuk berhukum dengan hukum kufur, meskipun pemimpinnya adalah muslim. Akibatnya aqidah dan syariat Islam yang murni dan utuh, kembali asing di tengah-tengah masyarakat. Inilah yang dikenal dengan zaman fitnah (ujian dan bencana) karena beratnya ujian dan banyaknya bencana terhadap agama.

5) Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah

InsyaAllah tak lama lagi, setelah ummat Islam melalui berbagai fitnah yang berat, akan lahir dan berdiri kembali Khilafah Islamiyah yang mengikuti Minhaj Nubuwwah. Mengembalikan kejayaan Islam untuk kali kedua sebelum dunia ini berakhir dengan tibanya Hari Kiamat yang pasti adanya.

Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 024/I



KAJIAN UTAMA: Tanda-tanda Kiamat (Asyrath as-Sa'ah)

Asyrath (أشراط) adalah bentuk Jamak dari kata Syarth (شرط) yang artinya tanda, prasyarat, atau kondisi. Jadi Asyrath as-Sa’ah artinya tanda-tanda kiamat, yakni kondisi dan situasi yang mengiringi makin dekatnya Hari Kiamat. Allah Ta’ala berfirman dalam al-Quran:

فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ السَّاعَةَ أَن تَأْتِيَهُم بَغْتَةً فَقَدْ جَآءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَآءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ
Maka apakah yang mereka tunggu selain Hari Kiamat yang akan mendatangi mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apalah gunanya penyesalan mereka apabila Hari Kiamat sudah datang? [QS Muhammad 47:18]

al-Quran dan al-Hadits banyak menyebutkan tanda-tanda Kiamat, baik secara tersurat maupun tersirat. Hal ini sangat penting mengingat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai Nabi dan Rasul terakhir (tidak ada lagi Nabi dan Rasul sesudah beliau) di akhir zaman (ketika kiamat sudah sangat dekat). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ
"Aku diutus dan Hari Kiamat seperti kedua (jari) ini". Seraya beliau mengisyaratkan dengan jari tengah dan jari telunjuk untuk menunjukkan dekatnya. [HR. al-Bukhary dan Muslim]

Bulletin Dakwah al-Qalam Edisi Khusus 001 Fatwa MUI No. 56 Tahun 2016 Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim



Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)  setelah

MENIMBANG:

a. bahwa di masyarakat terjadi fenomena di mana saat peringatan hari besar agama non-Islam, sebagian umat Islam atas nama toleransi dan persahabatan, menggunakan atribut dan/atau simbol keagamaan non-muslim yang berdampak pada siar keagamaan mereka;
b. bahwa untuk memeriahkan kegiatan keagamaan non-Islam, ada sebagian pemilik usaha seperti hotel, supermarket, departemen store, restoran dan lain sebagainya, bahkan kantor pemerintahan  mengharuskan karyawannya, termasuk yang muslim untuk menggunakan atribut keagamaan dari non-muslim;
c. bahwa terhadap masalah tersebut, muncul pertanyaan mengenai hukum menggunakan atribut keagamaan non-muslim;
d. bahwa oleh karena itu dipandang perlu menetapkan fatwa tentang hukum menggunakan atribut keagamaan non-muslim guna dijadikan pedoman.

Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 023/I



KAJIAN UTAMA: KIAMAT SUDAH DEKAT

Alam dunia ini diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala, bersifat fana yakni akan hancur. Kehancuran alam semesta ini adalah suatu kepastian yang tidak ada keraguan sedikitpun tentang itu, seperti halnya kepastian bahwa setiap makhluq bernyawa pasti akan mati.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ 
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. [QS ar-Rahman 55:26]

Masalah kapan terjadinya Kiamat itu, disamping hanya Allah yang bisa mengetahuinya, bukanlah hal yang penting diketahui oleh manusia. Seperti halnya manusia tidak perlu mengetahui kapan waktu kematiannya. Yang penting kita ketahui adalah bekal apa yang perlu kita persiapkan untuk menghadapi dan menjalaninya.

Firman Allah Ta’ala:
إِنَّ السَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى 
Sesungguhnya hari kiamat itu pasti akan datang, Aku sengaja merahasiakan (waktunya) agar setiap diri dibalas dengan apa yang ia usahakan. [QS Thaha 20:15] 
أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
Seorang arab badui bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Kapan terjadinya Kiamat?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam balik bertanya kepadanya: "Apa yang telah kau persiapkan untuknya?" Dia menjawab: "Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda: "Kau bersama dengan yang kau cintai." [HR. al-Bukhary dan Muslim]

Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 022/I



KAJIAN UTAMA: AL-YAUM AL-AKHIR

Iman kepada al-Yaum al-Akhir (Hari Akhir) adalah salah satu dari Rukun Iman. Bahkan dalam banyak Nash al-Quran maupun al-Hadits, Iman kepada Hari Akhir ini langsung disandingkan dengan Iman kepada Allah. Contoh dari al-Quran:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ 
Bukanlah kebaikan itu bahwa engkau menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah dan Hari Akhir ... [QS al-Baqarah 2:177]

Contoh dari Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia berkata baik atau diam." [Muttafaq ‘Alaih]

Lantas apakah makna al-Yaumul al-Akhir itu? Berikut ini pokok-pokok pengertian yang terkandung dalam istilah al-Yaum al-Akhir.

Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 021/I



KAJIAN UTAMA: PERJALANAN RUH KAFIR

Lanjutan Hadits panjang dari Sahabat al-Barra' bin 'Azib:

َقَالَ وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنْ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمْ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنْ اللَّهِ وَغَضَبٍ
(Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya) bersabda: Sebaliknya hamba yang kafir jika berpisah dari dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat dari langit yang berwajah hitam legam yang membawa kain yang kasar. Lalu mereka duduk di sisinya sejauh mata memandang. Lantas datang malakulmaut hingga duduk di dekat kepalanya lalu berkata, “Wahai ruh yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya!”

قَالَ فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنْ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَإٍ مِنْ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ فَيَقُولُونَ فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلَا يُفْتَحُ لَهُ
(Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya) bersabda: Maka jasadnya tercabik-cabik, dan malakulmaut mencabut ruhnya bagaikan garu bermata banyak yang ditarik dari kain basah lalu ia mengambilnya. Maka bila ia telah mengambilnya, para malaikat tidak membiarkannya sekejap pun di tangan malakulmaut sehingga mereka segera membungkusnya dalam kain kasar dan ruh itu keluar darinya seperti bau busuk yang paling menyengat di bumi. Lalu mereka menaikkannya, maka tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata, "Ruh siapa yang busuk ini?” Maka mereka menjawab, “Ini adalah fulan bin fulan”, dengan nama terburuk yang ia dinamakan ketika di dunia. Lalu ia sampai di langit dunia dan minta dibukakan tapi tidak dibuka untuknya.

Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 020/I



KAJIAN UTAMA: PERJALANAN RUH MU'MIN

Dalam sebuah Hadits yang panjang, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menuturkan  tentang perjalanan ruh manusia ketika meninggal dunia. Berhubung panjangnya Hadits ini, kita bagi dalam dua edisi yaitu perjalanan ruh orang mu’min dan perjalanan ruh orang kafir (edisi selanjutnya).

Diriwayatkan dari Sahabat al-Barra' bin 'Azib ia bercerita:

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ وَكَأَنَّ عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرَ وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ فِي الْأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا
Kami keluar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengiringi jenazah seorang Anshar. Maka kami sampai ke kubur, ketika tanah sedang digali, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk dan kami duduk di sekitarnya, (tunduk tepekur) seolah-olah di kepala kami ada burung. Di tangan beliau dahan yang beliau pukulkan ke tanah. Beliau mengangkat kepalanya ke langit dan berujar, "Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur!” (beliau ucapkan dua atau tiga kali).

Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 019/I



KAJIAN UTAMA: SAKRATUL MAUT

Sakratulmaut adalah proses pencabutan ruh manusia dari jasadnya, yang dilakukan oleh malakulmaut atas perintah Allah, yang menandai perpindahan ruh yang merupakan jati diri manusia, dari alam dunia ke alam akhirat.
قُلْ يَتَوَفَّاكُم مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
Katakanlah: malakulmaut yang ditugaskan (untuk mencabut nyawa) kalian akan mematikan kalian; kemudian kepada Tuhan kalian lah kalian dikembalikan. [QS as-Sajdah 32:11]
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Dan datanglah sakratulmaut dengan membawa kebenaran (al-haq). Itulah yang kamu selalu lari darinya. [QS Qaf 50:19]

Kedahsyatan sakratulmaut bisa dilihat dari dua sisi. 

Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 018/I



KAJIAN UTAMA: INGAT MAUT

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
"Banyak-banyaklah mengingat pemutus segala kelezatan yaitu maut" [HR. Ahmad dan at-Tirmidzi]

Mengapa kita harus sering-sering mengingat maut atau kematian?

Pertama. Karena maut adalah sesuatu yang pasti. Seluruh manusia, beriman maupun kafir, meyakini kepastiannya. Allah Ta’ala sendiri menamakan kematian itu dengan “al-yaqin”. Firman-Nya:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." [QS al-Hijr 15:99]
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Setiap yang berjiwa akan merasakan maut. Kemudian hanya kepada Kami, kamu dikembalikan." [QS al-Ankabut 29:57]