PERIODISASI UMMAT
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membagi masa atau periodisasi ummatnya menurut pemerintahannya. Karena corak peradaban ummat manusia sangat ditentukan oleh pemimpin mereka. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ.
“Akan berlangsung Nubuwwah (Kenabian) di tengah-tengah kalian selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia hendak mengangkatnya. Kemudian berlangsung Khilafah berdasar sistim Nubuwwah selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia hendak mengangkatnya. Lalu berlangsung “kerajaan yang menggigit” selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia hendak mengangkatnya. Lalu berlangsung “kerajaan yang menindas” selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia hendak mengangkatnya. Kemudian akan berlangsung (kembali) Khilafah berdasar sistim Nubuwwah. Lalu beliau diam”. [HR. Ahmad]
1) Zaman Nubuwwah (Kenabian)
Yaitu zaman ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Para Nabi dan Rasul memang diutus oleh Allah untuk memandu dan memimpin ummat manusia menurut petunjuk agama-Nya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ
"Adalah Bani Isra'il selalu diurus oleh Nabi-nabi. Bila seorang Nabi meninggal, diganti dengan Nabi lainnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggalku. Tapi akan ada para khalifah yang banyak". Para shahabat bertanya: "Apa yang anda perintahkan kepada kami?". Beliau menjawab: "Penuhilah bai'at khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat) lalu yang pertama. Berikanlah hak mereka (untuk ditaati) karena Allah akan meminta pertanggung jawaban mereka tentang pemerintahan mereka". [Hadits Muttafaq ‘Alaih]
2) Zaman Khilafah Rasyidah atau Khulafa’ ar-Rasyidin al-Mahdiyyin.
الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكًا بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ وَخِلَافَةَ عُمَرَ وَخِلَافَةَ عُثْمَانَ وَأَمْسِكْ خِلَافَةَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلَاثِينَ سَنَةً
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Khilafah dalam ummatku tiga puluh tahun kemudian setelah itu kerajaan.” Kemudian Safinah berkata kepadaku: Peganglah khilafah Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan Ali radliyallahu 'anhum. Kemudian kami menghitungnya ternyata tepat tiga puluh tahun. [HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi]
Pada dasarnya, setiap pemerintahan Islam yang dipimpin oleh satu pemimpin untuk seluruh kaum muslimin sedunia, disebut Khilafah. Namun yang mendapat gelar Khulafa’ ar-Rasyidin adalah empat Khalifah awal yaitu Abubakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Sedang Khilafah setelahnya, menggunakan sistim suksesi kepemimpinan menurut garis keturunan seperti kerajaan. Namun secara umum, kaum muslimin masih dianggap bersatu di bawah satu al-Jamaah atau al-Khilafah.
فَقَالَ الْعِرْبَاضُ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Dari al-Irbadh berkata, "Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama kami, kemudian menghadap ke arah kami lalu memberikan sebuah nasihat yang sangat menyentuh yang membuat mata menangis dan hati bergetar. Lalu seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat untuk perpisahan! Lalu apa yang engkau washiatkan kepada kami?" Beliau bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, senantiasa taat dan mendengar meskipun yang memerintah adalah seorang budak Habsyi yang hitam. Sesungguhnya orang-orang yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku, dan Sunnah para Khalifah al-Mahdiyyin (yang mendapat petunjuk) ar-Rasyidin (yang lurus), berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), sebab setiap perkara yang baru adalah bid'ah dan setaip bid'ah adalah sesat.” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad]
3) Zaman Mulkan ‘Adhdhan atau Kerajaan yang Menggigit.
Era setelah Khulafa’ ar-Rasyidin, dinamakan masa Mulkan ‘Adhdhan atau kerajaan yang menggigit. Dalam masa ini, suksesi Khalifah secara turun-temurun seperti sistem kerajaan, namun secara umum masih bisa dianggap Khilafah karena memerintah kaum muslimin seluruh dunia. Kenapa dinamakan Mulkan ‘Adhdhan (kerajaan yang menggigit?). Ada dua penafsiran. Pertama, karena mereka masih memegang atau menggigit Sunnah Nabi dan Sunnah Khilafah Rasyidah dalam menjaga sistem kepemimpinan kaum muslimin seluruh dunia atau Imamah-Jama’ah atau Khilafah yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Kedua, karena banyak penguasa di masa ini, melakukan tekanan kepada para Ulama yang mengkritik penyimpangan para penguasa dalam hal agama maupun dunia. Wallahu a’lam.
4) Zaman Mulkan Jabriyyah atau Kerajaan yang Sewenang-wenang.
Zaman ini ditandai dengan runtuhnya sistem Khilafah pada tahun 1924 di Turki. Sejak saat itu ummat kehilangan al-Jama’ah yang memimpin kaum muslimin berdasarkan Islam. Ummat Islam tercerai-berai dalam negara-negara yang dikuasai oleh pemerintahan kufur atau sekuler. Mereka memaksa kaum muslimin (dengan kekuatan ekonomi dan militer mereka) untuk berhukum dengan hukum kufur, meskipun pemimpinnya adalah muslim. Akibatnya aqidah dan syariat Islam yang murni dan utuh, kembali asing di tengah-tengah masyarakat. Inilah yang dikenal dengan zaman fitnah (ujian dan bencana) karena beratnya ujian dan banyaknya bencana terhadap agama.
5) Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah
InsyaAllah tak lama lagi, setelah ummat Islam melalui berbagai fitnah yang berat, akan lahir dan berdiri kembali Khilafah Islamiyah yang mengikuti Minhaj Nubuwwah. Mengembalikan kejayaan Islam untuk kali kedua sebelum dunia ini berakhir dengan tibanya Hari Kiamat yang pasti adanya.