Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 019/I



KAJIAN UTAMA: SAKRATUL MAUT

Sakratulmaut adalah proses pencabutan ruh manusia dari jasadnya, yang dilakukan oleh malakulmaut atas perintah Allah, yang menandai perpindahan ruh yang merupakan jati diri manusia, dari alam dunia ke alam akhirat.
قُلْ يَتَوَفَّاكُم مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
Katakanlah: malakulmaut yang ditugaskan (untuk mencabut nyawa) kalian akan mematikan kalian; kemudian kepada Tuhan kalian lah kalian dikembalikan. [QS as-Sajdah 32:11]
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Dan datanglah sakratulmaut dengan membawa kebenaran (al-haq). Itulah yang kamu selalu lari darinya. [QS Qaf 50:19]

Kedahsyatan sakratulmaut bisa dilihat dari dua sisi. 

Pertama, proses pencabutan ruh dari jasad itu sendiri adalah sangat berat dan menyakitkan. Ini adalah proses alamiah yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia, hatta para Nabi sekalipun.
‘Aisyah radliyallahu 'anha berkata bahwa di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ada kantong kulit atau bejana berisi air lantas beliau masukkan kedua tangannya ke dalam air lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan bersabda:
  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
"Laa-ilaaha-illallah, sungguh maut itu ada sakaratnya" [HR. Bukhari]

Kedua, besarnya perkara yang dibawa oleh maut itu sendiri yang dalam ayat di atas disebut al-haq (kebenaran) yakni kebenaran tentang fatamorgana dunia yang fana dan realitas akhirat yang abadi beserta segala konsekuensinya.

Kedua hal tersebut (kesakitan badan dan ketakutan batin) bila dihadapi oleh jiwa yang lari dan berontak karena enggan berpisah dari dunia, serta takut memasuki alam akhirat; akan membuat penderitaan itu makin menjadi-jadi. Firman Allah Ta’ala:
كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ. وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ. وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ. وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ. إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ
Sekali-kali jangan. Apabila (nyawa) telah sampai ke kerongkongan, dan dikatakan: "Siapakah yang dapat menyembuhkan?" dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. [QS al-Qiyamah 75:26-30]

Apalagi khusus bagi orang-orang kafir dan durhaka, ruhnya dicabut dengan keras dan kasar.
وَلَوْتَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُوا أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ
Kalau kamu melihat ketika orang-orang yang zalim dalam tekanan sakratulmaut, dan para malaikat membentangkan tangannya: "Keluarkanlah nyawamu!" Hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu berkata terhadap Allah dengan tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. [QS al-An'am 6:93]

Sedangkan orang-orang yang beriman dan bertaqwa, ruhnya diambil dengan lemah-lembut.
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
(Orang-orang) yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik: "Salam sejahtera atas kalian, masuklah kalian ke dalam surga berkat apa yang telah kalian kerjakan". [QS an-Nahl 16:32]

Tidak ada jalan lain, kedahsyatan sakratulmaut hanya bisa dihadapi dengan iman dan amal shaleh; karena itulah yang akan menghibur hati kita menjelang maut.  Dari 'Aisyah: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Siapa yang senang berjumpa Allah, Allah pun senang berjumpa dengannya dan siapa yang benci berjumpa Allah, Allah pun benci berjumpa dengannya.” Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah maksudnya membenci kematian, sedangkan setiap kita membenci kematian?" Beliau bersabda: "Bukan begitu, tetapi seorang mukmin bila (menjelang maut) diberi kabar gembira dengan rahmat dan ampunan Allah, ia senang berjumpa Allah maka Allah pun senang berjumpa dengannya. Sedang orang kafir bila diberi kabar dengan siksa Allah dan murka-Nya, ia benci berjumpa Allah maka Allah pun benci berjumpa dengannya." [HR. al-Bukhari dan Muslim]

FATWA 
Pahala Badal Haji

Pertanyaan:
Seseorang meninggal dan belum haji tapi mewasiatkan untuk di badal hajikan dari hartanya. Apakah haji orang lain seperti hajinya sendiri?

Jawaban
Jika seorang muslim meninggal dan belum haji sedangkan dia memenuhi syarat kewajiban haji maka hajinya wajib digantikan dari harta yang dia tinggalkan, baik dia mewasiatkan ataupun tidak. Dan jika orang yang menggantikan hajinya bukan anaknya sendiri namun dia orang yang sah berhaji dan telah haji maka hajinya sah untuk menggantikan orang lain dan telah mencukupi dari gugurnya kewajiban. Adapun perihal nilai haji seseorang yang menggantikan orang lain, apakah pahala hajinya seperti jika dilakukan sendiri, maka demikian itu kembali kepada Allah. Dan tidak syak bahwa yang wajib bagi seseorang adalah segera berhaji jika telah mampu sebelum dia meninggal berdasarkan beberapa dalil yang menunjukkan hal tersebut dan dikhawatirkan dosa karena menunda-nunda.

Sumber: Fatwa Lajnah Daimah

HIKMAH
Nasihat Tentang Maut (2)

Umar bin Dzar (seorang ulama Tabi'ut-Tabi'in) pernah berkata:

“Wahai pelaku kezhaliman! Sungguh kamu sedang dalam masa penangguhan, maka manfaatkanlah sebelum akhir masa itu tiba dan bersegeralah sebelum berlalu. Batas akhir penangguhan adalah ketika kamu menemui ajal. Ketika itu tidak berguna lagi penyesalan. Anak Adam ibarat papan sasaran dari anak panah kematian. Siapa yang dipanah dengan anak panahnya, tidak akan meleset. Bila maut itu menginginkan seseorang, maka tidak akan menimpa yang lain. Ketahuilah bahwa kebaikan terbesar adalah kebaikan di akhirat yang kekal abadi, terus berlanjut dan tak kenal putus. Hamba-hamba yang dimuliakan bertempat tinggal di sisi Allah di tengah segala hal yang menyenangkan hati. Mereka saling mengunjungi, bertemu dan bernostalgia tentang hari-hari mereka ketika di dunia. Tentramlah kehidupan mereka, memperoleh apa yang mereka inginkan, yakni berjumpa dengan Rabb Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Anugerah.”

Sumber: Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah

No comments:

Post a Comment