Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 018/I



KAJIAN UTAMA: INGAT MAUT

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
"Banyak-banyaklah mengingat pemutus segala kelezatan yaitu maut" [HR. Ahmad dan at-Tirmidzi]

Mengapa kita harus sering-sering mengingat maut atau kematian?

Pertama. Karena maut adalah sesuatu yang pasti. Seluruh manusia, beriman maupun kafir, meyakini kepastiannya. Allah Ta’ala sendiri menamakan kematian itu dengan “al-yaqin”. Firman-Nya:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." [QS al-Hijr 15:99]
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Setiap yang berjiwa akan merasakan maut. Kemudian hanya kepada Kami, kamu dikembalikan." [QS al-Ankabut 29:57]

Kedua. Karena umur manusia itu sangat singkat. Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
"Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali diantara mereka yang melebihi itu." [HR. Ibnu Majah]

Ketiga. Karena maut itu datang dengan tiba-tiba. Tidak seorang pun yang bisa mengetahui secara pasti kapan datangnya. Dan begitu ia datang, kita tidak bisa menolak maupun menundanya.
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَاتَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمَّى فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَئْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُونَ
"Jika Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan Dia tinggalkan di muka bumi sesuatu pun dari makhluk melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang tertentu. Maka bila tiba ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat  dan tidak (pula) memajukannya." [QS an-Nahl 16:61]

Keempat. Karena maut memutus kesempatan kita untuk bertaubat. Firman Allah Ta’ala:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْئَانَ وَلاَالَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلاَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
"Dan tidak ada taubat bagi orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila maut mendatangi salah seseorang mereka, (barulah) ia berkata: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka kafir. Bagi mereka Kami sediakan siksaan yang pedih." [QS an-Nisa' 4:18]

Kelima. Karena kesempatan hidup di dunia ini hanya sekali. Tidak seorang pun yang bisa kembali ke dunia. Firman Allah Ta’ala:
حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ. لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"Hingga apabila datang maut kepada salah seorang mereka, dia berkata: "Ya Tuhan kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku beramal saleh dalam apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding pembatas (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." [QS al-Mu'minun 23:99-100]

Keenam. Karena kesempatan hidup yang hanya sekali dan sangat singkat ini; menentukan nasib kita dalam kehidupan hakiki nan abadi di akhirat kelak. Firman Allah:
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
"Dan datanglah sakaratulmaut dengan membawa kebenaran. Itulah yang kamu selalu lari darinya." [QS Qaf 50:19]
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang berjiwa pasti akan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Maka siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yang menipu." [QS Ali Imran 3:185]

Melihat semua fakta-fakta tentang maut tersebut; sangat wajar, logis, dan cerdas; bila kita harus sering mengingat maut dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
"Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah." [HR. at-Tirmidzi]

FATWA 
Masjid dengan Kuburan

Pertanyaan:
Terkadang ada dermawan yang membangun masjid lalu mereka mengkhususkan tempat di halaman atau bagian depan masjid untuk kuburan mereka.

Jawaban:
Tidak boleh mengkhususkan bagian tertentu di masjid untuk dijadikan kuburan, karena ada dalil yang menunjukkan larangannya.
Ummu Salamah pernah bercerita kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam tentang gereja yang dilihatnya di Habasyah dan gambar-gambar di dalamnya. Maka Nabi shallallahu `alaihi wasallam bersabda, "Jika seorang saleh di antara mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburannya dan melukis gambarnya di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah." [Muttafaq ‘Alaih]
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat orang-orang yang membangun masjid di atas kuburan atau memberi lampu di atas kuburan." [HR. Abu Dawud dan  Tirmidzi]

Sumber: Fatwa Lajnah Daimah

HIKMAH
Nasihat Tentang Maut

Umar bin Dzar (seorang ulama Tabi'ut-Tabi'in) pernah berkata:

Kalian mengerti tentang kematian, maka kalian menunggu-nunggu kedatangannya, siang dan malam. Mungkin kamu meninggal sebagai orang yang sangat dicintai oleh keluarganya, dihormati oleh kerabatnya, dan dipatuhi oleh masyarakatnya; dipindahkan ke liang yang kering dan batu-batu cadas yang bisu. Tidak ada seorangpun dari keluarga yang bisa memberikan bantal, kecuali hanya menempatkannya di tengah kerumunan serangga. Bantal saat itu berupa amal. Atau mungkin kamu meninggal sebagai orang yang malang dan terasing. Di dunia, telah ditimpa banyak kesedihan dan kepayahan, lantas maut tiba-tiba menjemput sebelum ia meraih keinginannya. Atau mungkin kamu seorang anak yang masih disusui, orang yang sakit, atau orang yang tergila-gila dengan kejahatan. Mereka semua diundi dengan anak panah kematian. Tidak adakah pelajaran yang bisa dipetik dari para juru nasihat?!”

Sumber: Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah V hal. 115-116

No comments:

Post a Comment