Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 017/I
KAJIAN UTAMA: SYIRIK KECIL
Istilah Syirik Ashghar atau Syirik Kecil tercantum dalam Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang berbunyi:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? Beliau bersabda: "Riya’. Allah 'azza wajalla berfirman pada hari hamba-hamba diberi balasan amal-amal mereka: Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian perlihat-lihatkan amal-amal kalian di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapat balasan di sisi mereka?" [HR. Ahmad]
Syirik Ashghar sering dinamakan pula Syirik Khafiy atau syirik yang tersembunyi, yang juga disebutkan dalam Hadits berikut ini:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah keluar menemui kami, ketika kami sedang membicarakan al-Masih ad-Dajjal, maka beliau bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?" Kami menjawab: "Tentu." Beliau bersabda: "Syirik Khafiy (syirik yang tersembunyi), yaitu seseorang mengerjakan shalat lalu membaguskan shalatnya karena mengetahui ada orang yang memperhatikannya." [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]
Menurut para Ulama, Syirik Kecil adalah Syirik yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menghapus seluruh amal-amalnya. Meskipun namanya Syirik Kecil tetapi termasuk dalam jajaran D0SA-DOSA BESAR. Bahkan Syirik Kecil bisa membawa seseorang ke dalam Syirik Besar.
Riya atau sengaja memperlihatkan (pamer) amal ibadah kepada manusia adalah contoh Syirik Kecil.
Syirik Kecil yang lain adalah bersumpah dengan selain nama Allah yakni dengan nama makhluq.
سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ رَجُلًا يَقُولُ وَالْكَعْبَةِ فَقَالَ لَا تَحْلِفْ بِغَيْرِ اللَّهِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ وَأَشْرَكَ
Ibnu Umar pernah mendengar seorang lekaki berkata, "Demi Ka'bah." Maka Ibnu Umar berkata, "Jangan kamu bersumpah dengan nama selain Allah, karena saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, dia telah berbuat syirik." [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi]
Termasuk Syirik Kecil juga adalah Thiyarah atau Tathayyur yakni menganggap akan adanya kesialan berdasarkan tanda-tanda alam, tanpa dasar yang ilmiah. Misalnya mendengar suara burung, angka sial, hari atau tanggal sial, dan sebagainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
"Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -beliau mengucap tiga kali-. Setiap kita ada perasaan seperti itu, tapi Allah menghilang-kannya dengan tawakkal (bersandar dan berserah diri kepada Allah)." [HR. Abu Dawud]
Banyak pula Syirik Kecil berupa ucapan-ucapan yang kurang tepat dari segi aqidah Tauhid. Seperti disebutkan dalam Hadits berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجَعَلْتَنِي وَاللهُ عَدْلًا بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ
Dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada-nya: "Apakah engkau menyetara-kan diriku dengan Allah?! Tapi ucapkanlah: Apa yang dikehendaki oleh Allah semata!" [HR. Ahmad]
Intinya, kita harus selalu menjaga hati, lisan, dan perbuatan kita jangan sampai menjurus kepada hal-hal yang menodai Tauhid kita kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
"Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku sebagaimana orang Nashrani memuja Nabi Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah 'abdullahi wa rasuluh (hamba Allah dan utusan-Nya)." [HR. al-Bukhari]
FATWA
Belanja pada Non-Muslim
Pertanyaan:
Apa hukumnya muslim yang lebih suka berbelanja di toko orang kafir?
Jawaban:
Hukum asal seorang muslim boleh membeli barang atau keperluan halal, dari muslim ataupun kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah membeli dari orang yahudi. Jika seorang meninggalkan transaksi dengan pedagang muslim bukan karena alasan kemahalan atau kualitas yang buruk pada pedagang muslim; tetapi karena senang membeli dari orang kafir, dan mengutamakannya daripada saudara sesama muslim, maka ini adalah haram. Karena merupakan sikap wala’ (loyalitas, ridha dan cinta) kepada mereka. Juga karena mengakibatkan berkurangnya keuntungan pedagang muslim. Namun jika ada alasan-alasan seperti di atas, hendaknya dia menasihati saudaranya muslim untuk meninggalkan penyebab tersebut. Jika saudaranya itu sadar, alhamdulillah. Namun jika tidak, dia boleh berpindah kepada orang lain meskipun orang kafir yang lebih baik kualitas barangnya atau cara transaksinya.
Sumber: Fatwa Lajnah Daimah
HIKMAH
Kiat Menjadi Pemimpin dengan Cara yang Baik
Ketika Al-Ahnaf menjadi penguasa, Sulaiman bin Abdul Malik pernah terlibat dialog dengan Khalid bin Shafwan sebagai berikut:
Sulaiman: “Bagaimana Al-Ahnaf bisa menjadi pemimpin bagi kaummu padahal ia bukanlah orang yang paling terpandang dan tidak pula memiliki banyak harta?”
Khalid: “Aku punya banyak jawaban; engkau mau yang mana? Tiga, dua, atau satu jawaban?”
Sulaiman: “Kalau yang karena tiga hal, apakah itu?”
Khalid: “Ia tidak dengki (iri), tidak tamak, dan tidak menolak kebenaran yang harus diterima.”
Sulaiman: “Kalau yang dua jawaban?”
Khalid: “Ia selalu menebarkan kebaikan dan menjauhi kejahatan.”
Sulaiman: “Kalau yang satu jawaban?”
Khalid: “Ia tidak menjadikan kekuasaan untuk kepentingan pribadinya pada saat ia diberi kesempatan untuk berkuasa.”
Sulaiman: “Jawaban-jawabanmu bagus!”
Sumber:
Shifatush Shafwah 3/198
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment