Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 021/I



KAJIAN UTAMA: PERJALANAN RUH KAFIR

Lanjutan Hadits panjang dari Sahabat al-Barra' bin 'Azib:

َقَالَ وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنْ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمْ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنْ اللَّهِ وَغَضَبٍ
(Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya) bersabda: Sebaliknya hamba yang kafir jika berpisah dari dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat dari langit yang berwajah hitam legam yang membawa kain yang kasar. Lalu mereka duduk di sisinya sejauh mata memandang. Lantas datang malakulmaut hingga duduk di dekat kepalanya lalu berkata, “Wahai ruh yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya!”

قَالَ فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنْ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَإٍ مِنْ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ فَيَقُولُونَ فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلَا يُفْتَحُ لَهُ
(Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya) bersabda: Maka jasadnya tercabik-cabik, dan malakulmaut mencabut ruhnya bagaikan garu bermata banyak yang ditarik dari kain basah lalu ia mengambilnya. Maka bila ia telah mengambilnya, para malaikat tidak membiarkannya sekejap pun di tangan malakulmaut sehingga mereka segera membungkusnya dalam kain kasar dan ruh itu keluar darinya seperti bau busuk yang paling menyengat di bumi. Lalu mereka menaikkannya, maka tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata, "Ruh siapa yang busuk ini?” Maka mereka menjawab, “Ini adalah fulan bin fulan”, dengan nama terburuk yang ia dinamakan ketika di dunia. Lalu ia sampai di langit dunia dan minta dibukakan tapi tidak dibuka untuknya.


ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ{ لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ } فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا ثُمَّ قَرَأَ{ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنْ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ }
Lalu Rasulullah  shallallahu 'alaihi wasallam membaca ayat:
“Tidak dibukakan bagi mereka pintu langit dan mereka tidak bakal masuk surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum" (QS 7:40). Lalu Allah 'azza wajalla berfirman, “Tulislah catatannya dalam sijjin di bumi terendah!” Maka ruhnya dibuang sejauh-jauhnya. Kemudian beliau membaca ayat: “Dan siapa yang menyekutukan Alalh, maka seolah-olah dia terjatuh dari langit lantas disambar oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat jauh (QS 22:31).

فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنْ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنْ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمْ السَّاعَةَ
Lalu ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya dan datang dua malaikat yang mendudukkannya dan berkata kepadanya, “Siapa Tuhanmu?”  Ia menajwab “Hah hah... saya tidak tahu.” Lalu keduanya bertanya lagi, “Apa agamamu?” Ia menjawab, “Hah hah... saya tidak tahu.” Keduanya bertanya lagi, “Siapakah laki-laki ini yang diutus kepada kalian?” Ia menjawab, “Hah hah... saya tidak tahu.” Maka menyerulah penyeru dari langit, “Ia telah berdusta! Maka hamparkanlah baginya tikar dari neraka dan bukalah baginya pintu yang menuju neraka!” Maka ia didatangi oleh panasnya dan letupannya, dan kuburannya disempitkan hingga tulang-tulangnya remuk bersilangan. Kemudian ia didatangi oleh laki-laki yang berwajah buruk, berpakaian kumal, dan berbau busuk yang berkata, “Bergembiralah dengan segala hal yang akan menyusahkanmu. Inilah harimu yang dijanjikan bagimu.” Ia pun bertanya, “Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan!” Maka orang itu menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ia pun berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau selenggarakan Hari Kiamat” [HR. Ahmad dan lainnya]

FATWA 
“Mengubur” Rambut, Kuku, Gigi, dsb.

Pertanyaan:
Apa hukumnya menguburkan (memasukkan di dalam tanah) rambut yang terjatuh atau sudah dipangkas?

 Jawaban:
Sebagian ulama menganjurkan agar seseorang menguburkan rambut, kuku atau gigi yang sudah dihilangkan (dipotong atau dicabut). Mereka menyebutkan berkenaan dengan hal itu, sebuah atsar (riwayat perkataan atau perbuatan) dari Sahabat, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu.
Tidak dapat disangkal bahwa perbuatan seorang sahabat lebih utama untuk diikuti ketimbang perbuatan orang selainnya.
Para Fuqaha kita telah mengambil pendapat ini sembari berkomentar, "Selayaknya rambut, kuku, gigi dan lainnya yang telah tanggal atau dipotong agar dikuburkan."

Sumber:
Kitab ad-Da'wah, vol. V, Syaikh Ibnu Utsaimin, Jld II, hal. 79.

HIKMAH
Syubhat & Syahwat

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Sumber semua fitnah (kerusakan agama) adalah mendahulukan pemikiran di atas syari’at dan mengedepankan hawa nafsu di atas akal sehat. Yang pertama merupakan sumber fitnah syubhat (keraguan terhadap agama), sedangkan yang kedua merupakan sumber fitnah syahwat (dorongan untuk berbuat dosa). Fitnah syubhat ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat ditepis dengan kesabaran. Olehnya itu Allah menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman: “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang membimbing dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” [QS 32:24]. Allah juga memadukan keduanya dalam firman-Nya: “Mereka saling menasehati dengan kebenaran dan saling menasehati dengan kesabaran.” [QS 103:3]. Saling menasehati dengan kebenaran untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati dengan kesabaran untuk melawan fitnah syahwat.”
[Ighatsat al-Lahfan hal. 669]

No comments:

Post a Comment