Download File PDF Bulletin Dakwah al-Qalam no. 012/I : DISINI
File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah
KAJIAN UTAMA: ILAH & HAMBA
Dalam menanamkan aqidah, ada dua tema pokok yang selalu dintrodusir oleh al-Quran. Pertama, menghayati bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah. Kedua, meyakini bahwa al-Quran adalah wahyu Allah Tuhan alam semesta.
Orang yang selalu membaca alam semesta sebagai ciptaan Allah, ayat-ayat Allah, tanda-tanda kekuasaan Allah; tentu akan menemukan, mengenal, dan merasakan Ketinggian dan Kesempurnaan sifat-sifat Allah.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لأَيَاتٍ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَاخَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang benar-benar ayat-ayat (Allah) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [QS Ali Imran 3:190-191]
Lantas apa yang harus kita lakukan di hadapan Kebesaran dan Kekuasaan Allah itu? Apa makna dan tujuan keberadaan kita? Apa tugas dan kewajiban kita kepada Allah yang telah menciptakan kita? Itulah yang dijawab dan dijelaskan oleh Allah dalam al-Quran:
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepada-Ku. [QS adz-Dzariyat 51:56]
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. [QS al-Baqarah 2:21]
Beribadah hanya kepada Allah, itulah tujuan hidup manusia. Maka setiap Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah membawa misi untuk menuntun manusia kepada tujuan hidup tersebut. Firman Allah Ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah). [QS an-Nahl 16:36]
وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelummu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Ilah selain Aku, maka sembahlah hanya kepada-Ku. [QS al-Anbiya' 21:25]
Tauhid Uluhiyyah (beribadah hanya kepada Allah semata) yang dirumuskan dalam kalimat Laa Ilaaha Illallaah, itulah haq asasi (hubungan hak dan kewajiban) antara Allah dengan hamba-Nya.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ إِلَّا مُؤْخِرَةُ الرَّحْلِ فَقَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ثُمَّ سَارَ سَاعَةً قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ
Mu'adz bin Jabal meriwayatkan, "Pernah aku dibonceng oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dimana tidak ada antara aku dan beliau kecuali pelana hewan kendaraan. Beliau memanggil: "Wahai Mu'adz bin Jabal!" Aku menyahut, "Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah." Kami meneruskan perjalanan lalu beliau memanggil lagi: "Wahai Mu'adz bin Jabal!" Aku berkata, "Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah." Kami meneruskan perjalanan lalu beliau memanggil lagi: "Wahai Mu'adz bin Jabal!" Aku menyahut, "Aku penuhi panggilanmu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Tahukah kamu apa haq Allah atas para hamba?” Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Yaitu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya." Kami meneruskan lagi perjalanan kemudian beliau memanggil lagi: "Wahai Mu'adz bin Jabal!" Aku berujar, "Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Tahukah kamu apakah haq para hamba atas Allah apabila mereka telah melakukan (kewajiban) itu?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Bahwa Dia tidak akan menyiksa mereka (dalam neraka)." [HR. al-Bukhari dan Muslim]
FATWA
Memasang Lukisan Makhluq Bernyawa
Pertanyaan:
Apa hukum memasang lukisan dan foto makhluq bernyawa di dinding?
Jawaban:
Memasang foto atau lukisan makhluq bernyawa (manusia, hewan, dsb) di dinding, apalagi yang berukuran besar, adalah sangat diharamkan meskipun gambar tersebut menampakkan sebagian tubuh atau kepala saja. Maksud dari pemajangan gambar tersebut jelas merupakan pengagungan atau penghormatan terhadap apa yang dilukiskan dalam gambar tersebut. Padahal perbuatan Syirik itu bermula dari pengagungan seperti itu. Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas ketika menerangkan tentang patung-patung yang disembah oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam, “Sesungguhnya patung-patung itu adalah orang-orang shaleh yang mereka gambar dengan maksud untuk menggiatkan mereka beribadah, akhirnya lama-kelamaan mereka menyembah patung-patung tersebut.”
Fatwa Syaikh al-Utsaimin [Al-Majmu’ ats-Tsamin I/201]
HIKMAH
Dosa dan Taubat
Ibnu Syubrumah rahimahullah, berkata:
“Aku heran terhadap orang yang menjaga makanannya karena takut terkena penyakit, tetapi tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa yang bisa mengakibatkan terkena jilatan api neraka.” [Siyar A’lam An-Nubala, 6/348]
Thalaq bin Habib rahimahullah, berkata:
“Sesungguhnya hak-hak Allah itu lebih besar daripada yang bisa ditunaikan oleh hamba dan nikmat Allah itu lebih banyak daripada apa yang bisa dihitung. Maka hendaknya seseorang hamba bertaubat di pagi dan sore hari.” [Siyar A’lam An-Nubala’, 4/602]
Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah, berkata:
“Tanda taubat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” [Siyar A’lam An-Nubala, 9/315]

No comments:
Post a Comment