Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 011/I


Download File PDF Bulletin Dakwah al-Qalam no. 011/I : DISINI
File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah

KAJIAN UTAMA: MENGENAL ALLAH

Ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bertahannuts di Gua Hira, datanglah Jibril membawa wahyu Allah yang pertama kepada beliau. Wahyu al-Quran yang pertama turun tersebut berbunyi sbb:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ. عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (memberi ilmu) dengan (perantaraan) qalam. Dia mengajari manusia apa yang dia tidak tahu.” [QS al-'Alaq 96:1-5]

Firman Allah Ta’ala tersebut berisi perintah “membaca” yang diulang dua kali. Apa yang dibaca tidak disebutkan secara eksplisit. Yang ditekankan adalah cara membaca yang harus dilandasi oleh dua keyakinan (aqidah) yaitu: Pertama, Allah menciptakan alam semesta. Kedua, Allah menurunkan al-Quran. Dengan demikian, yang kita baca adalah ayat-ayat Allah, yakni alam semesta dan al-Quran.

Firman Allah Ta’ala:
إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لأَيَاتٍ لِّلْمُؤْمِنِينَ. وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَايَبُثُّ مِن دَآبَّةٍ ءَايَاتٌ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ. وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَآأَنزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَآءِ مِن رِّزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ اْلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ ءَايَاتٌ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ. تِلْكَ ءَايَاتُ اللهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللهِ وَءَايَاتِهِ يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kalian dan binatang-binatang melata yang bertebaran terdapat ayat-ayat untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula ayat-ayat bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan mana lagi sesudah Allah dan ayat-ayat-Nya, mereka akan beriman?” [QS al-Jatsiyah 45:3-6]
Tidak ada jalan untuk mengenal Allah selain dengan membaca ayat-ayat-Nya, baik ayat-ayat Kauniyah (yang tercipta) yakni alam semesta maupun ayat-ayat Tanziliyah (yang diwahyukan) yakni al-Quran.

Siapapun yang “membaca” alam semesta, tentu akan mengenal Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, Maha Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai Tauhid Rububiyah, yang dimiliki oleh setiap manusia sejak lahirnya, sebagai fitrah dari Allah.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَآ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa mereka: "Bukankah Aku Rabbmu?" Mereka menjawab: "Benar, kami menyaksikan!” Agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami orang-orang yang lalai terhadap (Tauhid Rububiyah) ini. [QS al-A'raf 7:172]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [QS ar-Rum 30:30]

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka mengapa mereka dipalingkan (dari Tauhid)?” [QS az-Zukhruf 43:87]

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Kuasa Perkasa lagi Maha Mengetahui". [QS az-Zukhruf 43:9]

al-Quran al-Karim, diturunkan oleh Allah untuk mengembalikan manusia kepada fitrah tersebut yang dirusak oleh agama-agama palsu serta ideologi-ideologi sesat bikinan manusia-manusia fasiq. Disamping itu, al-Quran juga memberikan petunjuk cara menyikapi dan memperlakukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan ditaati. Inilah yang dinamakan Tauhid Uluhiyah sebagai inti dan konsekuensi dari Syahadat.

FATWA

Memanjangkan Kuku

Pertanyaan:
Apakah hukumnya memanjangkan semua kuku atau sebagiannya?

Jawaban Syaikh Utsaimin:
Memanjangkan kuku; jika tidak haram, minimal makruh. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menentukan jangka waktu memotong kuku, yaitu agar tidak dibiarkan lebih dari 40 hari. [Shahih Muslim, Kitab ath-Thaharah 258].
Adalah aneh bila mereka yang mengklaim diri modern dan beradab, membiarkan kuku-kuku mereka padahal kuku itu membawa kotoran dan menyerupai binatang.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "(Alat) apa saja yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah maka makanlah (sembelihannya). Kecuali kuku dan gigi. Sebab kuku adalah alat penyembelihan orang-orang Habasyah, sementara gigi adalah termasuk tulang." [Muttafaq ‘Alaih]
Maksudnya kaum Habasyah itu menjadikan kuku-kuku tersebut sebagai pisau untuk menyembelih dan memotong daging. Ini semua merupakan cara hidup primitif yang lebih mirip dengan binatang.
Sumber: Kitab ad-Da'wah vol. V

HIKMAH

Akibat Dosa di Dunia

Ubaidillah bin Sirr meriwayatkan:
Muhammad bin Sirin rahimahullah (salah seorang ulama Tabi’in, wafat tahun 110H) pernah mengatakan:

“Sungguh aku mengetahui sebuah dosa yang pernah aku lakukan, yang membuatku kini terlilit utang. Empat puluh tahun yang lalu, aku pernah menegur seseorang dengan sebutan: “wahai orang bangkrut”.

Lalu aku (Ubaidillah) menceritakan hal ini kepada ad-Darani, maka ad-Darani berkata: “Dosa mereka (para ulama Tabi’in) sedikit sehingga mereka bisa mengetahui dosa mana yang menyebabkan suatu musibah menimpa mereka. Adapun dosa-dosaku dan dosa-dosamu banyak, sehingga kita tidak tahu lagi dosa mana yang menyebabkan musibah menimpa kita.”
[Kitab Hilyatul Awliya’ Ibnul Jauzi]

Kisah ini juga mengandung ibrah bahwa akibat suatu dosa di dunia ini bisa muncul nanti bertahun-tahun kemudian, ketika pelakunya mungkin sudah melupakannya. Waspadalah terhadap dosa!

No comments:

Post a Comment