Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 010/I


Download File PDF Bulletin Dakwah al-Qalam no. 010/I : DISINI
File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah

KAJIAN UTAMA: SYAHADAT

Syahadat adalah Rukun Islam yang pertama. Ia ibarat kunci untuk membuka pintu masuk ke dalam Agama Islam. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima dasar: persaksian bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan.” [Muttafaq 'Alaih]

Dengan bersyahadat, seseorang menjadi bagian dari kaum muslimin yang harus diperlakukan sebagai saudara seagama. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
"Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan hisab amal mereka terserah Allah" [Muttafaq 'Alaih]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:
بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengirim pasukan berkuda ke Najed. Pasukan itu lalu kembali dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka kemudian mengikat laki-laki itu di salah satu tiang masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu keluar menemuinya dan bersabda: "Lepaskan Tsumamah!" Tsumamah kemudian masuk ke kebun kurma dekat masjid untuk mandi. Setelah itu ia kembali masuk ke masjid dan mengucapkan, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah." [HR. al-Bukhari]

Dengan bersyahadat, seseorang juga telah memegang kunci surga, bila ia benar menepati syahadatnya itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan berpegang teguh padanya tanpa ada keraguan, melainkan dia masuk surga.” [HR. Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ عَمَلٍ
“Barangsiapa mengucap: saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, satu tanpa sekutu, dan bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Nabi Isa adalah hamba Allah, putera dari hamba-Nya (yakni Maryam) dan kalimah-Nya yang Dia campakkan pada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga itu benar adanya dan neraka itu benar adanya, niscaya Allah akan memasukkan dia ke dalam surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki diantara delapan pintu surga berdasarkan amalnya.” [HR. Muslim]

Bagaimana dengan umumnya kita yang menjadi muslim karena orangtua kita adalah seorang muslim. Apakah kita perlu mengawali atau meresmikan keislaman kita juga dengan bersyahadat? Jawabannya: tidak perlu, karena pada dasarnya setiap anak yang lahir ke dunia ini memang sudah berstatus muslim, yakni lahir dalam keadaan fitrah (Islam). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ
“Tidak seorang bayi pun melainkan dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Kemudian kedua orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nasrani, ataupun majusi.” [HR. Muslim]

Meskipun demikian, tugas kita sebagai muslim, baik yang sudah lama muslim maupun yang baru kembali menjadi muslim, adalah mempelajari dan memahami apa makna dan konsekuensi Syahadat. Inilah yang akan dibahas dalam kajian-kajian berikutnya.

FATWA

Zakat Barang yang Disewakan

Pertanyaan:

Saya mempunyai sebuah gedung yang dipersewakan. Apakah saya menzakati harga pokoknya (harga gedung itu) atau cukup menzakati hasil penyewaannya? Tolong beritahu saya, semoga Anda mendapat pahala.

Jawaban:

Zakatnya hanya pada hasil penyewaan saja, jika telah dimiliki selama satu tahun. Jika menggunakannya sebelum genap setahun, maka gugurlah kewajiban zakat itu. Adapun untuk harga bangunan tersebut, tidak ada zakatnya, karena bangunan itu tidak diproyeksikan untuk dijual. Demikian juga setiap barang yang diproyeksikan untuk digunakan atau disewakan, tidak ada zakat pada harganya, tetapi zakatnya adalah pada hasil penyewaannya.

Sumber:
Fatawa Al-Lu’lu Al-Makin min Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin

HIKMAH

Berilmu untuk Beramal

Sufyan rahimahullah ditanya:

“Mana yang lebih engkau sukai, menuntut ilmu ataukah beramal?”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka janganlah engkau tinggalkan menuntut ilmu dengan dalih ingin (menyibukkan diri dengan) beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan dalih ingin (menyibukkan diri dengan) menuntut ilmu.”
[Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 44-45]

Abu Abdillah ar-Rudzabari rahimahullah berkata:

“Barangsiapa yang berangkat menuntut ilmu sementara yang dia inginkan hanya (untuk mendapatkan) ilmu itu, niscaya ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menuntut ilmu (dengan niat) untuk mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.”
[al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71]

No comments:

Post a Comment