Download File PDF Bulletin Dakwah al-Qalam no. 009/I : DISINI
File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah
KAJIAN UTAMA: ARKAN AD-DIN (SENDI-SENDI AGAMA)
Allah Ta’ala berfirman:
قَالَتِ اْلأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ اْلإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ لاَيَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Orang-orang Arab Badui berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kalian belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah berislam", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, tetapi jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak mengurangi sedikit pun (pahala) amal-amal kalian, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [QS al-Hujurat 49:14]
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa tidak semua muslim sudah mu’min. Untuk menjadi muslim yang mu’min harus melalui dan menjalani proses islamisasi kepribadian dengan mengikuti petunjuk al-Quran dan as-Sunnah.
Dalam sebuah Hadits yang biasa dijuluki "Hadits Jibril", Sahabat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan:
بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ... قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ
Kami di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika datang seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan, dan tidak seorang pun diantara kami yang mengenalnya. Hingga dia duduk dekat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan tangannya di atas paha Nabi, dan berkata, “Ya Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadlan, dan haji ke Baitullah jika kamu mampu.” Orang itu berkata, “Kamu benar.” Umar berkata: maka kami heran karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan. Dia bertanya lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang Iman?” Beliau menjawab: "Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, serta takdir baik dan takdir buruk." Dia berkata, “Kamu benar.” Dia bertanya, “Kabarkanlah kepadaku tentang Ihsan?” Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." ...Kemudian dia beranjak pergi, sedang aku (Umar) tertegun. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Umar, tahukah kamu siapa penanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Itulah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajari kalian tentang Agama kalian”. [Hadits al-Bukhari dan Muslim]
Dari Hadits ini bahwa ad-Diin atau Agama Islam memiliki tiga Rukun:
1) Rukun Islam yang terdiri atas: Syahadat, Shalat, Zakat, Shiyam (Puasa), dan Haji.
2) Rukun Iman yang terdiri atas: Iman kepada Allah, para malaikat, para Rasul, Hari Akhir, dan Takdir.
3) Rukun Ihsan yaitu: mengabdi atau beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya, jika kita tidak dapat melihat-Nya maka meyakini bahwa Allah melihat kita.
Islam itu sendiri sebagai Din yang sempurna, telah mencakup ketiga Rukun di atas. Adapun muslim sebagai pribadi, untuk bisa menjadi muslim yang ideal dan paripurna, umumnya harus berproses melalui ketiga fase tersebut.
1) Tingkat Dasar adalah Islam. Melaksanakan Islam atas dasar KETUNDUKAN dan KEPASRAHAN.
2) Tingkat Menengah adalah Iman. Menjalankan Islam atas dasar KEPERCAYAAN akan kebenarannya.
3) Tingkat Tinggi adalah Ihsan. Mengintegralisasikan nilai-nilai Islam atas dasar KESADARAN.
InsyaAllah kajian-kajian berikut berusaha mengantarkan kita menjalani fase-fase untuk menjadi muslim yang mu’min dan muhsin.
FATWA
Pakaian Mini Anak
Pertanyaan: Sebagian kaum muslimah memakaikan pakaian pendek (mini) kepada puteri-puterinya yang menampakkan dua betisnya. Jika kami menasehati ibu-ibunya, mereka menjawab, "Kami juga dahulu waktu masih kecil memakai pakaian seperti itu dan hal itu tidak memudharatkan kami setelah kami dewasa." Bagaimana pendapat Syaikh mengenai masalah tersebut?
Jawaban Syaikh Utsaimin:
Menurut saya, tidak selayaknya seseorang memakaikan baju semacam itu kepada puterinya, meskipun masih kanak-kanak, karena jika ia telah terbiasa, ia akan sulit meninggalkannya. Sedangkan jika sejak kecil dibiasakan memakai pakaian yang sopan, ia akan tetap memakainya setelah dewasa. Nasehat saya kepada saudari-saudariku kaum muslimat, hendaklah menjauhi pakaian yang sengaja disebarkan oleh musuh-musuh Islam dan membiasakan anak-anak kita dengan pakaian yang menutupi aurat dan menanamkan rasa malu, karena malu itu adalah bagian dari iman.
HIKMAH
Menghafal, Memahami dan Mengamalkan
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata:
“Sesungguhnya kami (para Sahabat Nabi) mengalami kesulitan menghafalkan al-Qur’an tetapi mudah bagi kami mengamalkan-nya. Dan kelak akan datang kaum setelah kami, ketika itu begitu mudah menghafalkan al-Qur’an tetapi sulit bagi mereka mengamalkannya.”
[al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an]
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:
“Ulama hadits pernah berpesan, bahwa tidak semestinya seorang penuntut ilmu hadits mencukupkan diri dengan mendengar dan mencatat hadits tanpa mengetahui dan memahami kandungan isinya. Sebab hal itu akan membuang-buang energi dalam keadaan dia tidak mendapatkan apa-apa. Hendaklah dia menghafalkan hadits secara bertahap, sedikit demi sedikit, seiring dengan perjalanan siang dan malam.”
[al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an]

No comments:
Post a Comment