Download File PDF Bulletin Dakwah al-Qalam no. 008/I : DISINI
File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah
KAJIAN UTAMA: ISTIQAMAH & TAUBAT
Allah ‘azza wajalla berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَآأُمِرْتَ وَمن تَابَ مَعَكَ وَلاَتَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيٌر
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar dan lurus, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (kepada) orang-orang yang telah bertaubat besertamu dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan." [QS Hud 11:112]
Istiqamah artinya tetap di atas jalan yang lurus dan seimbang yaitu jalan Islam yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah. Bagi orang yang bertaubat, istiqamah adalah kondisi ketika ia mampu menepati tekadnya untuk tidak terjatuh ke dalam dosa besar dan tidak berketerusan dalam dosa-dosa kecil. Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang mudah, karena tabiat manusia yang sering lupa dan hatinya selalu berbolak-balik.
Hadits riwayat Anas menerangkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa membaca do'a "yaa muqallibal quluubi tsabbit qalbii ‘alaa diinika (wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)." [HR. at-Tirmidzi]
Bahkan dalam setiap raka’at shalat kita diwajibkan berdoa:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Bimbinglah kami untuk menepati jalan yang lurus" [QS al-Fatihah 6]
Disamping berdoa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah memberikan tips agar kita bisa Istiqamah dalam beragama:
سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Tepatkanlah dan dekatkanlah (amal kalian sesuai Sunnah), dan ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang dimasukkan surga oleh amalnya. Dan sesungguhnya amal yang lebih dicintai oleh Allah adalah yang paling dawam (kontinyu) walaupun sedikit." [HR. al-Bukhari]
Berikut point-point Hadits di atas:
1) Tepatkanlah dalam beramal
Beramallah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jangan kurang dan jangan pula menambah-nambah sehingga jatuh ke dalam bid’ah.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sederhana dalam (mengamalkan) Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi (mengerjakan) bid’ah.”
Untuk itu, diperlukan ilmu yang benar agar kita bisa mengenal Sunnah dan tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah.
2) Dekatkanlah dalam beramal
Bila belum mampu mengikuti Sunnah Nabi secara sempurna, usahakanlah agar bisa mendekati dan tingkatkanlah sedikit demi sedikit secara bertahap.
3) Jangan bersandar pada amal
Bila engkau melakukan suatu amal saleh, jangan ujub dan bangga dengan amal itu, karena amal saleh kita tidak ada nilainya dibanding banyaknya dosa kita, tidak terhingganya nikmat Allah, dan kesempurnaan hak Allah yang demikian besar; sehingga mustahil bisa kita sandingkan dengan amal-amal kita yang tidak seberapa.
Demikian pula bila engkau terjatuh ke dalam dosa, jangan putus asa, kecewa dan bersikap apatis. Segeralah mohon ampun kepada Allah, bangkit dan terus berbenah diri. Karena Rahmat Allah jauh lebih besar dari amal maupun dosa kita.
4) Kontinyu dalam beramal
Dalam melakukan suatu amal saleh, jagalah agar amal tersebut rutin dilakukan, tidak terputus-putus apalagi terhenti. Untuk itu, jangan terlalu semangat mengejar kuantitas (jumlah) tapi utamakan kontinuitas (kesinambungan).
Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata, “Sebagian orang enggan untuk mudaawamah (konsisten dan kontinyu dalam beramal). Demi Allah, seorang mukmin tidaklah beramal untuk sebulan atau dua bulan, setahun atau dua tahun. Tidak, demi Allah! Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian.” [Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman].
Semoga kita menjadi hamba Allah yang istiqamah, yang akan diberi kabar gembira oleh para malaikat.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka konsisten dengan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): "Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". [QS Fushshilat 41:30]
FATWA
Hukum Wanita Shalat Berjama’ah di Masjid
Pertanyaan:
Apa hukumnya wanita ikut shalat berjama'ah di masjid?
Jawaban:
Wanita boleh mendatangi masjid dengan dua syarat:
Pertama. Tidak menggunakan wangi-wangian dan tidak tabaruj (menampakkan aurat atau pakaian yang menarik perhatian). Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya: "Jika seorang wanita mendatangi masjid, maka janganlah memakai wangi-wangian."
Kedua. Harus dengan seizin suaminya dan bagi suami harus mengizinkannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya: "Janganlah kalian melarang isteri-isteri kalian pergi ke masjid, kendati shalat mereka di rumah lebih baik bagi mereka."
Sumber: Ensiklopedia Fatwa Syaikh Nashiruddin al-Albani
HIKMAH
Dua Macam Tangisan
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang ilmunya membuat dia menangis, maka dia seorang yang alim.” Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila (al-Qur’an) dibacakan kepadanya, mereka menyungkurkan muka mereka sambil bersujud.” [QS 17:107]
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, berkata: “Tidaklah seseorang menangis kecuali hatinya menjadi saksi akan kebenaran atau kedustaannya.”
Abdul Karim bin Rasyid bercerita: Aku pernah berada di majelis Al-Hasan Al-Bashri, lalu ada orang yang menangis dan mengeraskan tangisannya. Maka Al-Hasan berkata: “Sungguh setan telah membuat orang ini menangis.”
Fudhail bin ‘Iyyadh rahimahullah berkata: “Menangis itu bukanlah dengan mata (saja), tetapi dengan menangisnya hati. Sungguh terkadang ada seseorang yang kedua matanya menangis sementara hatinya mengeras. Karena tangisan seorang munafiq dengan kepalanya bukan dengan hatinya.”

No comments:
Post a Comment