Bulletin Dakwah al-Qalam edisi 007/I


Download File PDF Bulletin Dakwah al-Qalam no. 007/I : DISINI
File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah

KAJIAN UTAMA: HIJRAH & TAUBAT

Dari segi bahasa, Hijrah artinya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Dari segi istilah, Hijrah artinya berpindah dari suatu tempat, lingkungan, atau sistem yang tidak islami menuju ke tempat, lingkungan, dan sistem lain yang lebih islami.

Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berikut ini menunjukkan adanya keterkaitan antara Taubat dan Hijrah, beliau bersabda:
الْهِجْرَةُ لاَ تَنْقَطِعُ حَتَّى تَنْقَطِعَ الْتَوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ الْتَوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا. رَوَاهُ أبو دَاوُد وَأَحْمَدُ
"Hijrah tidak terputus sampai terputusnya (masa untuk) taubat, dan taubat tidak terputus sampai matahari terbit dari sebelah barat." [HR. Abu Dawud dan Ahmad]

Kerap terjadi, untuk bisa bertaubat dengan benar, seseorang harus berpindah dari tempat tinggalnya yang lama menuju ke tempat lain yang lebih kondusif untuk bertaubat dan memulai lembaran kehidupan baru yang lebih baik. Dalam sebuah Hadits yang panjang, Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah menceritakan:
كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ
“Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian ia mencari penduduk bumi yang paling alim (berilmu agama). Lalu dia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah Bani Israil) maka dia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib dia berterus terang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, maka apakah taubatnya bisa diterima? Rahib itu menjawab, “Tidak.” Maka ia  membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian ia mencari lagi penduduk bumi yang paling ‘alim, lalu dia ditunjukkan kepada seorang ‘alim. Kepada orang ‘alim tersebut, ia berkata bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah dia masih bisa bertaubat? Orang alim itu menjawab, “Ya, apa yang menghalangi antara anda dan taubat?! Pergilah ke daerah ini karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala. Beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu adalah lingkungan yang buruk.” Maka berangkatlah ia ke daerah yang ditunjukan. Di tengah perjalanan menuju kesana ia meninggal dunia. Lalu malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentang siapa yang akan membawa ruhnya. Malaikat rahmat berkata, “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah Ta’ala.” Malaikat azab membantah, “Tetapi, dia belum berbuat kebaikan sama sekali.” Akhirnya datanglah malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Lalu keduanya menjadikan malaikat yang berwujud manusia sebagai hakim di antara mereka. Malaikat tersebut berkata, “Ukurlah jarak antara kedua daerah ini, negeri mana yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini maka orang itu diikutkan sebagai penduduknya.” Maka merekapun mengukurnya dan ternyata orang tersebut lebih dekat ke tempat tujuannya. Maka ia pun dibawa oleh malaikat rahmat.”
[HR. al-Bukhari dan Muslim]

Tidak syak lagi, bahwa terkadang seseorang ingin bertaubat dan meninggalkan kebiasaannya yang buruk tetapi mengalami kesulitan karena lingkungan pergaulan yang tidak mendukung. Disinilah pentingnya kita melakukan Hijrah, baik secara fisik (berpindah tempat), maupun secara maknawi (berpindah sistem dan lingkungan pergaulan) demi kesempurnaan dan kemantapan Taubat kita.
Firman Allah Ta’ala:
وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَكَانَ اللهُ غُفُورَا رَّحِيمًا
"Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS an-Nisa 4:100]

FATWA

Hukum Berdzikir Menggunakan “Tasbeh”

Pertanyaan:

Apa hukum bertasbih dengan menggunakan tasbeh (butiran-butiran yang diikat -ed.)? Apa boleh menggunakannya dengan alasan untuk menghitung bilangan tasbih?

Jawaban:

Lebih baik meninggalkannya. Sebagian ulama memakruhkannya, dan yang lebih utama adalah bertasbih dengan menggunakan jari-jemari sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan bahwa beliau memerintahkan untuk menghitung bilangan tasbih dan tahlil dengan jari-jari tangan, beliau bersabda,
إِنَّهُنَّ مَسْؤُوْلاَتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ
"Sesungguhnya mereka (jari-jemari itu) akan ditanya dan mereka akan disuruh berbicara (menjadi saksi atas amal saleh orang yang berdzikir)" [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad]

Al-Fatawa oleh Syaikh Ibnu Baz

HIKMAH

Selektif dalam Pergaulan

Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah, berkata:
“Tanda taubat ialah menangis atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.”
[Siyar A’lam An-Nubala, 9/315]
“Bergaullah dengan manusia sebagaimana kamu berinteraksi dengan api. Ambillah manfaat darinya dan berhati-hatilah jangan sampai dia membakar dirimu.”
[at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 475]

Al-Hasan al-Bashary rahimahullah berkata:
“Demi Allah, sungguh jika kamu bergaul dengan orang-orang yang selalu menakut-nakuti kamu (dari neraka) sampai akhirnya kamu merasakan keamanan (di surga); lebih baik bagimu daripada berteman dengan orang-orang yang selalu membuatmu merasa aman (dari neraka) tapi akhirnya menyeretmu ke dalam hal yang menakutkan (di neraka).” [Aina Nahnu min Ha’ulaa’i, hal. 16].

No comments:

Post a Comment