Download File PDF Bulletin Dakwah al-Qalam no. 006/I : DISINI
File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah
KAJIAN UTAMA: ISHLAH DAN TAUBAT
Ishlah artinya memperbaiki yaitu menjadikan sesuatu yang tadinya buruk atau rusak menjadi baik dan berfungsi kembali sebagaimana mestinya. Apa kaitan Ishlah dengan Taubat? Allah Ta’ala berfirman:
إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS Ali Imran 3:89]
Firman Allah Ta’ala dengan redaksi yang sama persis dengan di atas, terdapat pula dalam QS 24:5. Masih banyak lagi ayat-ayat serupa yang memuat istilah Ishlah yang berkaitan dengan Taubat. Silakan periksa QS 5:39, 2:160, 4:16, 16:119, 4:146, 6:54. Banyaknya ayat-ayat Ishlah dan Taubat menunjukkan kepada kita betapa pentingnya Ishlah sebagai suatu syarat kesempurnaan Taubat. Ishlah adalah bukti dan tanda Taubat dalam bentuk amal badan sebagaimana halnya Istighfar adalah bukti dan tanda Taubat dalam bentuk amal lisan.
Apa yang perlu diperbaiki oleh orang yang bertaubat? Pertama, tentu saja memperbaiki dampak buruk dosa terhadap diri sendiri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ{ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya satu noktah hitam. Maka bila ia meninggalkannya, mohon ampun dan bertaubat; hatinya dibersihkan. Bila ia kembali (berbuat dosa), ditambahkan lagi titik hitam tersebut hingga menutup hatinya. Dan itulah “rona” yang Allah sebutkan (dalam al-Quran surat 83:14 yang artinya): "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” [HR. Tirmidzi]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang akan menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik." [HR. Tirmidzi]
Firman Allah Ta’ala:
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللهِ مَتَابًا
"Dan barangsiapa yang bertaubat dan beramal shaleh, maka sungguh dia telah bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat." [QS al-Furqan 25:71]
Proses bertaubat dan memperbaiki diri dengan melakukan amal-amal shaleh secara terus-menerus itulah yang diistilahkan tazkiyatunnafs atau pembersihan jiwa. Proses ini tidak pernah berhenti hingga manusia meninggal dunia, karena selama manusia masih hidup di dunia, ia tidak akan pernah luput dari dosa. Tetapi Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat dan selalu berusaha membersihkan diri, lahir dan batin, fisik dan jiwa.
Firman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri." [QS al-Baqarah 2:222]
Ishlah yang kedua adalah memperbaiki hubungan dengan orang lain. Utamanya bila dosa itu berkaitan langsung dengan pelanggaran terhadap hak orang lain. Maka dosa mengambil harta orang lain harus diperbaiki dengan mengembalikan hartanya atau memohon kerelaannya. Dosa merusak nama baik orang lain harus diperbaiki dengan merehabilitasi nama baiknya di mata orang-orang yang telah memandangnya buruk akibat ulah kita. Dosa menyakiti hati orang lain tanpa haq, harus diperbaiki dengan memohon maaf dan mengobati sakit hatinya. Demikian seterusnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang mempunyai suatu kezhaliman terhadap saudaranya (sesama muslim), hendaklah ia meminta dihalalkan (di dunia), karena di (akhirat) sana, tiada lagi dinar dan dirham, sebelum kezalimannya akan dibalas dengan cara (pahala) kebaikannya diberikan kepada saudaranya (yang dia zhalimi). Jika ia tidak mempunyai kebaikan lagi, dosa saudaranya diambil dan dipikulkan kepadanya.” [HR. al-Bukhari]
FATWA
Parfum Bagi Wanita
Pertanyaan:
Bila seorang wanita hendak pergi ke masjid, sekolah atau rumah sakit, atau mengunjungi kerabat dan tetangga, bolehkah ia memakai wewangian?
Jawaban:
Ia boleh mengenakan wewangian jika keluarnya itu hanya menuju ke tempat-tempat sesama wanita dan di jalanan tidak melewati kaum laki-laki. Tapi jika keluarnya dengan mengenakan parfum itu menuju tempat yang ada kaum laki-laki, maka itu tidak boleh. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُوْرًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ اْلآخِرَةَ.
"Wanita manapun yang menyentuh wewangian, maka tidak boleh mengikuti shalat Isya bersama kami." [HR. Muslim] Dan beberapa Hadits lain yang semakna.
Diringkas dari Fatwa Syaikh Abd. Aziz Bin Baz di Majalah Ad-Da'wah, 18/4/1410 H.
HIKMAH
Taubat dan Keutamaan Berbakti kepada Ibu
Seorang lelaki datang menemui Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu untuk mengadukan dirinya. Dia bercerita, “Aku pernah melamar seorang perempuan, tetapi dia tidak mau menikah denganku. Lalu ada orang lain yang melamarnya dan dia mau menikah dengannya. Aku merasa cemburu, hingga aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat?”.
Beliau bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”.
Dia menjawab, “Tidak.”
Ibnu Abbas berkata, “Kalau begitu bertaubatlah kepada Allah ‘azza wa jalla dan bertaqarrub lah kepada-Nya sekuat tenagamu.”
‘Atha’ bin Yasar penasaran dengan jawaban Ibnu 'Abas lalu pergi menemui beliau seraya bertanya, “Mengapa engkau bertanya kepadanya tentang apakah ibunya masih hidup?”
Ibnu ‘Abbas pun menjawab, “Sungguh aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wajalla daripada berbakti kepada ibu.” [HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad]

No comments:
Post a Comment