File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah
KAJIAN UTAMA: AL'UBUDIYYAH
Tauhid Uluhiyyah dinamakan pula Tauhid ‘Ubudiyyah. Uluhiyyah (dari kata Ilah) artinya sifat-sifat Ketuhanan yang hanya dimiliki oleh Allah subhanahu wata’ala. Sedangkan ‘Ubudiyyah (dari kata ‘abd) artinya sifat-sifat kehambaan yang wajib dimiliki oleh manusia terhadap Tuhannya. Apa saja yang menjadi unsur-unsur ‘Ubudiyyah (penghambaan) kita kepada Allah?
Pertama: Ta’zhim (mengagungkan Allah)
Allah memiliki segala sifat-sifat Keagungan, Kemuliaan, dan Kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh makhluq. Kewajiban kita selaku hamba adalah Ta’zhim atau mengagungkan Allah. Bentuk-bentuk Ta’zhim misalnya: Tadharru’ (menghinakan diri kepada Allah), Hubb (cinta kepada Allah), Khauf (takut) dan Raja’ (harap) kepada Allah. Sikap-sikap itulah yang harus mengisi dan menguasai hati kita.
وَمَاقَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang benar padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan [QS az-Zumar 67]
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka... [QS al-Anfal 8:2]
Kedua: Tha’at (mentaati Allah)
Hanya Allah sajalah yang memiliki hak Tasyri’ (menetapkan syariat agama). Dia memiliki perintah dan larangan, ketentuan halal dan haram, tatacara ibadah dan aturan muamalah (interaksi manusia). Kewajiban kita sebagai hamba adalah taat sepenuhnya kepada semua syariat dan hukum-Nya.
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ
Dia telah mensyariatkan bagimu yakni agama yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh dan apa yang Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, bahwa tegakkanlah agama itu dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya” [QS asy-Syura' 42:13]
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَّقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menetapkan hukum diantara mereka, mereka berkata: "Kami dengar dan kami taat." Dan mereka itulah orang-orang yang ber-untung. [QS an-Nur 24:51-52]
Ketiga: Isti’anah (memohon pertolongan Allah)
Inti dari penyembahan kepada Allah adalah memohon kepada Allah. Karena sebagai makhluq, sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa, sedang Allah Maha Kaya dan Maha Kuasa. Kita menyembah Allah dengan mengharap rahmat dan karunia-Nya. Termasuk Isti’anah adalah: berdoa, istighfar, istighatsah, nadzar, tawassul, tabarruk, dan sebagainya.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan [QS al-Fatihah 1:5]
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhan kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagi kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. [QS al-Mu'min 40:60]
Keempat: Tawakkal (Berserahdiri) kepada Allah
Setelah kita mengikuti syariat Allah, serta berdoa memohon pertolongan-Nya; tidak ada lagi yang bisa kita perbuat selain menyerahkan hasilnya kepada Kehendak dan Kekuasaan Allah. Jangan bersandar pada makhluq, dan jangan pula mengandalkan usaha maupun doa kita sendiri.
وَللهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ اْلأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَارَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Dan hanya kepunyaan Allah apa yang gaib di langit dan di bumi dan hanya kepada-Nya dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkal lah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. [QS Hud 11:123]
InsyaAllah kajian-kajian berikutnya akan membahas satu-persatu point-point dan istilah-istilah yang telah dikemukakan di atas.
FATWA
Memberikan Zakat kepada Suami yang Berutang
Pertanyaan:
Bolehkah seorang istri memberikan zakat perhiasan kepada suaminya, karena sang suami seorang pegawai yang berpenghasilan kecil dan memiliki utang yang cukup besar?
Jawaban:
Tidak masalah bagi wanita yang mengeluarkan zakat perhisannya atau zakat lainnya kepada suaminya yang fakir atau memiliki utang yang tidak mampu dilunasinya. Ini menurut pendapat yang paling benar diantara dua pendapat ulama, berdasarkan keumuman dalil-dalil tentang zakat, diantaranya firman Allah:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ ...
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus zakat, orang yang dibujuk hatinya untuk masuk Islam, untuk (memer-dekakan) budak, orang-orang yang berutang... [QS at-Taubah 9:60]
Fatwa Syaikh Bin Baz
HIKMAH
Teman Sejati
Seorang lelaki dari kalangan salaf datang ke rumah salah seorang temannya. Tuan rumah keluar menemuinya dan bertanya: "Ada keperluan apa?”
Ia berkata: "Aku memiliki hutang empat ratus dirham dan sulit membayarnya".
Temannya segera masuk ke dalam rumah, menyiapkan uang sejumlah itu lalu keluar menemuinya dan memberikan uang tersebut. Setelah itu ia kembali masuk ke rumahnya sambil menangis.
Melihat hal itu, istrinya berkata padanya: "Apakah tidak lebih baik bila engkau meminta maaf saja dan mengatakan kepadanya bahwa kita tidak bisa membantunya, kalau memang engkau merasa berat untuk membantunya?"
Maka ia pun berkata pada istrinya: "Sesungguhnya saya menangis bukan karena merasa berat membantunya... Saya sedih karena sekian lama saya berteman dengannya tapi saya tidak pernah bertanya kepadanya tentang kebutuhannya, sehingga dia pun terpaksa harus datang mengiba untuk meminta bantuanku..."
Sumber: At-Tabshirah 2/263

No comments:
Post a Comment