File PDF tersebut bisa diprint pada kertas ukuran A4 secara timbal-balik
Siap untuk dicetak ulang, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah
KAJIAN UTAMA: BAHAYA SYIRIK
Lawan dari Tauhid adalah Syirik. Bila Tauhid berarti menuhankan dan menyembah hanya kepada Allah semata maka Syirik adalah menuhankan atau menyembah sesuatu selain Allah.
Syirik adalah dosa yang paling besar diantara segala jenis dosa, bahkan ia adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah. Artinya bila seorang mati dalam keadaan musyrik (sebagai pelaku Syirik yang belum bertaubat), maka tidak ada lagi peluang dosanya diampuni oleh Allah di akhirat. Firman Allah:
إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar. [QS an-Nisa' 4:48]
Karena Tauhid adalah tujuan penciptaan manusia, maka Syirik adalah ketersesatan yang sejauh-jauhnya dari tujuan penciptaan manusia. Firman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutu-kan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya. [QS an-Nisa' 4:116]
Karena Tauhid adalah hak Allah maka berbuat Syirik berarti merampas hak Allah dan berbuat suatu kezaliman yang terbesar.
وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". [QS Luqman 31:13]
Bila Tauhid memastikan seseorang masuk surga, maka Syirik memastikan seseorang masuk neraka. Perhatikan Hadits berikut.
أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُوجِبَتَانِ فَقَالَ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah dua hal yang mewajibkan?” Beliau menjawab: “Siapa yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu maka ia masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu maka ia masuk neraka." [Muttafaq ‘Alaih]
Dua Hadits Qudsi berikut ini menunjukkan betapa pentingnya kita waspada terhadap Syirik.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah tabaraka wa ta'ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau selama berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu, Aku pasti mengampuni dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepadaKu niscaya aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan membawa kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiKu dengan tidak mempersekutukan sesuatu denganKu niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi." [HR. at-Tirmidzi]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا لَوْ كَانَتْ لَكَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهَا فَيَقُولُ نَعَمْ فَيَقُولُ قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ أَنْ لَا تُشْرِكَ فَأَبَيْتَ إِلَّا الشِّرْكَ
Allah Tabaraka wa Ta'ala bertanya kepada penduduk neraka yang paling ringan siksaannya: "Andai kau memiliki dunia seisinya, apa kau akan menebus (siksa) ini dengannya?" Orang itu menjawab: "Tentu!" Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku telah meminta darimu yang lebih ringan dari itu saat kau masih di sulbi Adam yakni agar kau tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu, tapi kau enggan dan malah mempersekutu-kanKu." [Muttafaq ‘Alaih]
Semoga Allah ‘azza wajalla menjauhkan kita dari dosa Syirik. InsyaAllah selanjutnya kita akan mengkaji jenis-jenis Syirik.
FATWA
Shaf Wanita yang Utama Bila Ada Tabir (Hijab)
Pertanyaan:
Jika terdapat tabir pembatas yang memisahkan tempat shalat pria dan wanita, apakah masih berlaku sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Sebaik-baik shaf pria adalah shaf terdepan dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir, dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir, dan seburuk-buruknya adalah yang terdepan?
Jawaban:
Alasan bahwa sebaik-baiknya shaf wanita adalah shaf yang paling belakang ialah karena shaf yang paling belakang itu adalah shaf yang paling jauh dari kaum pria, semakin jauh seorang wanita dari kaum pria maka semakin terjaga dan terpelihara kehormatannya. Akan tetapi jika tempat shalat wanita jauh dan terpisah dengan dinding atau pembatas lainnya, sehingga kaum wanita hanya mengandalkan pengeras suara dalam mengikuti imam; maka pendapat yang kuat adalah shaf yang pertama lebih utama daripada shaf di belakang dan seterusnya, karena shaf terdepan ini lebih dekat kepada kiblat. Wallahu a’lam.
Fatwa Syaikh Abdullah Al-Jibrin
HIKMAH
Gadget di Rumah Allah
Syeikh Nuruddin al-Banjari pernah bertanya kepada majlis: “Kenapa pemain sepakbola tidak membawa handphone mereka di lapangan?”
Jawabannya: “Sebab tidak ada kepentingan. Mereka hanya perlu fokus kepada permainan mereka.”
Syeikh berujar: “Lantas kenapa kita membawa handphone ke rumah Allah (masjid)? Adakah lapangan bola itu lebih mulia daripada masjid? Adakah bermain bola itu lebih perlu fokus daripada shalat?”
Pesan Syeikh: “Mulai sekarang, belajarlah untuk tidak menyibukkan diri dengan gadget di rumah Allah... karena tiada urusan yang lebih penting daripada urusan kita dengan Allah. Jaga adab kita dengan Allah!”
Syeikh Abdurrahman as-Sudais Imam Masjidil Haram pernah mengimami shalat di depan Ka'bah, lalu dalam shalatnya beliau mendengar suara musik dari ponsel salah seorang jamaah. Selesai shalat beliau bangkit sambil menangis dan berkata kepada jamaah, “Selama ini saya belum pernah mendengar musik di rumah saya. Tapi hari ini saya mendengar musik di rumah Allah ... "
Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.

No comments:
Post a Comment